HUJAN TIBA BENCANA “TERLUPAKAN”

HUJAN TIBA BENCANA “TERLUPAKAN”



Sejenak warga Kalimantan Barat khususnya warga kota Pontianak melupakan persoalan bencana kabut asap yang menyerang beberapa waktu yang lalu sepanjang agustus 2018. Masyarakat mulai sedikit demi sedikit melupakan bencana tersebut dikarenakan turunnya hujan. Turunnya hujan secara perlahan mulai menurunkan angka hotspot di Kalimantan Barat.
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, bencana kabut asap di Kalimantan Barat tak henti menyerang ketika musim kemarau tiba yang di akibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Bencana kabut asap dapat berlangsung 2 minggu hingga 1 bulan. Bencana ini tentunya menyebabkan banyak kerugian bagi semua pihak. Pada  2015 tercatat 3.191,98 ha[1] luas lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan yang juga mengakibatkan bencana asap di Kalimantan Barat. Beranjak dari kejadian besar 2015 sebenarnya telah banyak inisiasi yang di lakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mencegah hal terssebut terjadi kembali. Selain itu, sokongan dana dari beberapa donor yang masuk kepada NGO pendamping masyarakat juga bergelontoran untuk penanggulangan dan pencegahan bencana tersebut. Namun semua hal tersebut baru benar-benar teruji pada tahun 2018, dimana Kalimantan Barat mencatatkan menyumbang angka hotspot tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data pantauan dari sipongi.menlhk.go.id sepanjang agustus 2018 Kalimantan Barat menyumbangkan 1.129 hotspot. 
Pemerintah daerah dan pusat seharusnya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dikarenakan hujan yang turun dengan derasnya di Kalimantan Barat menyapu semua kebakaran hutan dan lahan juga kabut asap yang terjadi. Namun yang sebenarnya perlu menjadi perhatian adalah mengapa kemudian dana milliaran rupiah yang telah di gelontorkan pemerintah pusat maupun Lembaga donor lainnya seolah-olah tak mampu mencegah atau bahkan menurunkan hotspot yang terjadi di Kalimantan Barat pada agustus yang lalu. Semua program yang di jalankan pemerintah melalui Badan Restorasi Gambut (BRG) dan juga inisiasi dari beberapa NGO local dan Internasional seolah tidak memiliki rencana kontijensi yang konrit secara utuh. Hal ini kemudian yang harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terhadap semua program tersebut. Rencana kontijensi yang tidak terkoordinasi dengan baik menyebabkan bencana kebakaran hutan dan lahan serta asap meningkat di Kalimantan Barat. Berdasarkan data dari sipongi.menlhk.go.id pada periode 15-31 agustus terdapat 3 kabupaten di Kalimantan Barat yang menyumbang hotspot cukup banyak yaitu Ketapang, Kuburaya dan Sanggau.


Perkumpulan SELARAS memandang bencana asap dan kebakaran hutan di Kalimantan Barat pada 2018 menunjukkan masih besarnya ego sektoral di instansi pemerintahan baik pusat dan daerah. Dimana seharusnya setiap instansi terkait seperti Kementrian LHK, BNPB, BRG serta instansi terkait lainya di pusat untuk segera kembali melakukan evaluasi setiap program dan usaha yang ada. Selain itu, instansi daerah seperti Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD), DISHUT, DISBUN, BPBD, dan lainnya juga harus segera menyusun rencana kontijensi untuk pencegahan dan penanggulangan  bencana kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap secara detail dan terintegrasi.



Djayu Sukma Ifantara
Perkumpulan SELARAS
[1] Sipongi.menlhk.go.id

Comments