Sustainability Landscape Resolution Initiative (SELARAS)
|
Who We Are
|
Sustainability Landscape Resolution Initiative (SELARAS) adalah Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang berdiri atas inisiasi dari para aktivis lingkungan,
akademisi dan aktivis ham dan bisnis yang melihat dimana saat ini
pengembangan investasi berbasis hutan dan lahan terutama di bidang perkebunan
sawit, hutan tanaman dan Industri Ekstraktive lainnya belum mengke depankan
prinsip-prinsip berkelajutan secara penuh. Atas dasar inilah kemudian SELARAS
di inisiasi sebagai sebuah lembaga yang akan menjalin kerjasama multipihak
baik dengan pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan bahwa perkembangan
perkebunan sawit dan hutan tanaman tetap memperhatikan prinsip-prinsip
keberlanjutan dan butir-butir bisnis dan HAM juga ramah lingkungan.
|
|
Vission
|
Terwujudnya pengelolaan Sumber
Daya Alam yang lestari dan berkeadilan serta mengkedepankan prinsip-prinsip
Ham dan bisnis oleh Pemegang Izin Industri Ekstraktive.
|
|
Mission
|
1. Mewujudkan Pengelolaan Industri Ekstraktive yang
lestari dan berkelanjutan dengan mengkedepankan aspek-aspek lingkungan
2. Terwujudnya Sinergitas pengelolaan, pemanfaatan dan
perlindungan sumber daya alam yang adil dan lestari antara pemerintah, sektor
swasta dan masyarakat
3. Terwujudnya Kolaborasi pengelolaan sumberdaya alam yang
adil dan berkelanjutan antara masyarakat dan sektor swasta
|
|
Our Approach
|
Pengelolaan kawasan di
Indonesia selama ini terkesan semeraut dan tidak membertimbangkan semua aspek
yang ada, baik aspek ekonomi, sosial, budaya dan ekologi. Pengelolaan kawasan
yang terkesan semarut ini kemudian yang melahirkan berbagai macam konflik, baik
konflik tenurial antara pemerintah, pemegang izin dan masyarkat maupun
konflik ekologi. Hal ini terlihat kemudian, dengan tinggi nya angka konflik
tenurial di Indonesia. Menurut catatan Konsorsium Pembaruan Agraria
(KPA) selama tahun
2015 jumlah konflik tenurial sebanyak
252 kasus dengan luas
400.430 Ha, melibatkan 108.714 keluarga. Dari berbagai kasus itu korban tewas
5 orang, tertembak aparat
39 orang, luka-luka 124 orang dan ditahan
(kriminalisasi) 278 orang. Selain itu, pada
awal tahun 2000-an Indonesia juga pernah tercatat dalam Guinness Book of
World Records sebagai Negara tropis dengan laju deforestasi tertinggi
di dunia, yakni dua juta hektar pertahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan di
Indonesia baik hutan maupun non-hutan sangatlah tidak tertata dengan baik.
Hal ini terjadi dikarenakan
banyak nya pemangku kepentingan yang memiliki tujuan yang sama dalam
pembangunan dan pengembangan serta pemanfaatan wilayah namun tidak duduk
bersama dengan pemangku kepentingan lainnya. Berdasarkan permasalahan
tersebut kemudian kami hadir dengan sebuah pendekatan pengembangan kawasan
hutan dan non hutan melalui pendekatan lansekap. Lebih spesifik, pendekatan
lansekap yang dilakukan adalah dengan pendekatan lansekap multifungsi (Multifunctional Lansekap Approach).
Pendekatan ini berusaha untuk menyediakan sebuah konsep dan alat untuk
mengalokasikan dan mengelola kawasan baik hutan dan non hutan untuk mencapai
tujuan sosial,
ekonomi, dan lingkungan
di wilayah di mana pertanian,
pertambangan, dan lahan produktif lainnya sejalan dengan tujuan lingkungan,
pelestarian keanekaragaman hayati dan kesejahteraan masyarakat.
Lebih jauh pendekatan ini kemudian menempatkan tujuan
yang dimiliki oleh pemangku kepentiangan dan pengembangan masyarkat hingga
lingkungan menjadi satu integrasi yang tak terpisahkan.
Dalam pendekatan
Multifunctional Landscape Approach ini, terdapat 8 prinsip dasar pendekatan,
diantaranya adalah :
1.
Colaborative
Management
Pengembangan
berbasis lansekap dengan pendekatan Multifunctional Landscape Approach selalu
mengkedepankan management kolaboratif. Management kolaboratif ini yang
kemudian akan memastikan semua pemangku kepentingan untuk selalu duduk
bersama untuk menemukan dan menyusun rencana pengelolaan bersama pada tingkat
lansekap.
2.
Multiple Scale
Governance
Dalam
pengelolan tingkat lansekap, sangat lah penting ketika semua pemangku
kepentingan memiliki niatan dan tujuan yang sama didalam pengelolaan
lansekap. Namun dari pada itu, peran serta semua pemangku kebijakan untuk
mengambil peran dalam penataan wilayah lansekap. Ini terkait dengan
kepentingan masing-masing pemangku kepentingan. Didalam Multi Scale
Governance (tata kelola skala ganda), masing-masing pemangku kepentingan akan
dapat menempat masing-masing interest kedalam rencana penataan wilayah
bersama.
3.
Multifunctionality
Lansekap dan komponennya memiliki banyak kegunaan dan tujuan, masing-masing dinilai dengan cara yang berbeda oleh pemangku kepentingan yang berbeda. Pengabaian kepentingan dari masing-masing pemangku kepentingan akan menimbulkan konflik dan gesekan antar pemangku kepentingan. Hal ini yang kemudian diperlukan untuk ditemukan sebuah benang merah penyelarasan.
Didalam
pengelolaan landsekap, setiap interest dari pemangku kepentingan bukan
merupakan hal yang terpisah atau partial. Namun interest tersebut sebenarnya
adalah sebuah benang merah yang menuju pada tujuan pengelolaan dan
pemanfaatan lansekap. Untuk itu, skema multifungsi dalam pengelolaan adalah
untuk merangkum semua interest untuk di jadikan kedalam sebuah benang merah
tujuan besar bersama didalam pengelolaan lansekap.
4.
Multiple
Stakeholder Engagement
Banyak skema
pengelolaan yang berakhir pada kegagalan dikarenakan tidak semua pemangku
kepentingan terlibat didalam pengambilan keputusan. Kegagalan untuk melibatkan pemangku kepentingan secara adil dalam
proses pengambilan keputusan akan menghasilkan hasil
yang tidak optimal, dan terkadang tidak etis.Solusi yang ada haruslah mencakup distribusi manfaat yang
adil. Mengembangkan pendekatan lansekap memerlukan
proses multi kolabiratif untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan dan mengenali kekhawatiran dan aspirasi mereka.
5.
Negotiated and
Transparent
Transparansi adalah dasar kepercayaan dalam pengelolaan berbasis lansekap. Transparansi dicapai melalui
proses perubahan yang saling dipahami dan dinegosiasikan dan dibantu oleh tata pemerintahan
yang baik.
Kebutuhan untuk mengkoordinasikan kegiatan oleh beragam actor mensyaratkan bahwa visi bersama dapat disepakati. Ini memerlukan consensus luas mengenai tujuan, tantangan, dan kekhawatiran umum, serta pilihan dan peluang. Semua pemangku kepentingan perlu memahami dan menerima logika umum, legitimasi, dan justifikasi untuk tindakan, dan untuk mengetahui risiko dan ketidak pastian. Membangun dan memelihara consensus semacam itu adalah tujuan mendasar dari pendekatan lansekap multifungsi (Multifunctional Lanscape Approach).
6.
Rights and
Responsibility
Aturan tentang akses sumberdaya dan penggunaan lahan merupakan hasil social dan konservasi dan harus jelas sebagai dasar pengelolaan
yang baik. Akses terhadap system peradilan
yang adil memungkinkan penyelesaian konflik dan jalan keluar.
Hak dan tanggung jawab berbagai actor harus jelas dan diterima oleh semua pemangku kepentingan.
Klarifikasi klaim
yang saling bertentangan akan memerlukan perubahan,
idealnya dinegosiasikan,
yang mungkin legal atau informal. Ketika konflik muncul,
perlu ada system legitimasi
yang sah untuk arbitrase,
keadilan, dan rekonsiliasi.
7.
Participatory
Monitoring
Ketika para pemangku kepentingan telah menyetujui tindakan dan hasil
yang diinginkan, mereka akan tertarik untuk menilai kemajuan yang dihasilkan dari rencana yang ada. Dalam pendekatan lanskap,
tidak ada pemangku kepentingan tunggal
yang memiliki klaim unik terhadap kemajuan dari pengelolaan bersama.
Semua pemangku kepentingan harus dapat mengukur dan menilai serta mengevaluasi secara bersama akan capaian dan kemajuan
yang terjadi dari pengelolaan
yang telah di sepakati bersama.
8.
Strengthened stakeholder capacity
Setiap pemangku kepentingan membutuhkan kemampuan untuk berpartisipasi secara efektif dan menerima berbagai peran dan tanggung jawab.
Partisipasi semacam itu mengandaikan keterampilan dan kemampuan tertentu
(sosial, budaya, keuangan).
Partisipasi yang efektif membuat tuntutan para pemangku kepentingan. Sifat lansekap yang kompleks dan berubah membutuhkan perwakilan dan institusi yang kompeten dan efektif yang dapat terlibat dengan semua masalah yang diangkat oleh proses tersebut. Proses dalam pendekatan Multifunctional Landscape ini yang kemudian juga mengkedepankan peningkatan kapasitas pemangku kepentingan baik secara individu dan kelembagaan. |
Comments
Post a Comment